Selasa, 09 November 2010

Pesawat Presiden Amerika 4


Mendesain pesawat yang nyaman bagi presiden hanya terdengar omong kosong bila melupakan satu faktor lainnya: aman. Sebagai "Gedung Putih Terbang", pesawat yang memiliki 57 antena dan kabel sepanjang 257 mil (413,6 km) ini dilengkapi berbagai sistem pertahanan dengan spesifikasi yang dirahasiakan. Dari hal yang paling mendasar, sistem kabel (wiring) di dalam Air Force One (AF 1) tidak menggunakan kabel tembaga dan chip komputer biasa. Keberadaannya digantikan kabel fiber optik dan chip berbahan gallium arsenide yang tahan gelombang EMP.

Untuk menghadapi ancaman lebih nyata dibanding ancaman ledakan nuklir seperti rudal antipesawat, AF 1 dilengkapi dispenser flare dan chaff, cukup untuk membutakan rudal pencari infra merah atau radar. Akan tetapi, sebenarnya sistem pertahanan utama antimisil tidak sekadar bertumpu pada chaff dan flare. Maklum, dengan tubuh gambot, sudah tentu emisi panas pesawatnya luar biasa. Sekali rudal meluncur, AF 1 yang besar dan berat tentu tak bisa leluasa bermanuver menghindar layaknya jet tempur. Salah-salah, panasnya flare masih kalah dari panas gas buang mesin GE CF6, yang merupakan mesin turbofan dengan daya dorong terbesar di dunia (sebelum Trent 900 lahir).

Jawaban atas ancaman tersebut terletak pada sistem jammer AN/ ALQ-204 Matador IRCM (Infra Red Counter Measure) buatan British Aerospace. Begitu dinyalakan saat hendak lepas landas, Matador bisa beroperasi secara otomatis tanpa operator. Sistemnya mengirimkan begitu banyak sinyal palsu untuk mengecoh rudal berpemandu IR dan bisa beroperasi di tengah interferensi jammer lawan berkat filter elektromagnetis. Tak tanggung-tanggung, satu VC-25 dipasangi lima sistem Matador sekaligus. Pemasangan dilakukan di bagian belakang pangkal tiap pylon mesin sehingga optimal untuk membantu mengecoh panasnya emisi gas buang dari nacelle CF-6. Satu sistem Matador terakhir dipasang di atas tail exhaust port, tempat APU (auxillary power unit) VC-25. Keberadaannya mudah dideteksi, cukup cari dua lensa berwarna hijau di pangkal pylon, dan itulah Matador.

Pertahanan organik di dalam AF 1 bertumpu pada satu regu Air Force One Security Details (AF ISD) yang terdiri dari para personel AU AS. Mereka berlatih ilmu pertempuran jarak dekat dan membawa pistol M9 9 mm sebagai sarana bela diri standar. Bila diperlukan, ada beberapa titik penyimpanan senjata rahasia di AF 1 yang berisi SMG atau senapan serbu. Di atas AF 1, AF ISD adalah otoritas yang berwenang dalam menghadapi insiden udara. Namun, tanggung jawab atas keselamatan presiden masih tetap berada di tangan US Secret Service. Dari posisi kabin mereka yang tepat berada di depan kabin pers dan penumpang lainnya yang diizinkan ikut, jelas bahwa mereka berfungsi sebagai air marshal dan lapisan pertahanan terluar bagi presiden saat berada di atas AF 1.

Kelemahan masa depan

Jika melirik AF 1, maka decak kagum sudah tentu tiada habisnya. Anggun sekaligus perkasa, sudah pasti AF 1 merupakan pionir berbagai pesawat kepresidenan yang ada di seluruh dunia. Tidak satu pun pesawat di kelasnya yang bisa mengalahkan Air Force One. Pesawat para sheik Arab bisa mengalahkan kemewahannya, tetapi tidak untuk sistem komunikasi, proteksi, dan kemisteriusan yang menyelubunginya.

Bagaimanapun, ujian zaman akhirnya membuktikan kelemahan AF I. Peristiwa 11 September 2001 membuktikan bahwa terbatasnya sistem komunikasi AF 1 nyaris berujung pada hilangnya kepercayaan publik pada sistem pemerintahan AS. Presiden Bush yang frustrasi tidak bisa menyiarkan keberadaannya di atas AF 1 dan harus transit di Offutt terlebih dahulu untuk menyiarkan pidatonya. Hal kedua yang menjadi perhatian adalah penggantian VC-25 sebagai pesawat kepresidenan. Tak bisa dimungkiri, umur airframe pesawat yang menua akhirnya akan membatasi umur pengabdian VC-25.

Biarpun peralatan VC-25 luar biasa—apabila ada satu komponen di mesin CF-6 yang rusak, prosedur tetap dari 89`" Airlift Wing yang memayungi VC-25 adalah mengganti satu mesin secara keseluruhan—umur airframe akan tetap dibatasi oleh kelelahan logam. Masalahnya, mencari pesawat pengganti bukan hal mudah. Satu-satunya pesaing dari Jumbo Jet, yaitu A380, kemungkinan besar tak akan dipilih karena produk luar dan tidak melambangkan kedigdayaan Amerika. Selain itu, tidak semua landasan di dunia siap didarati A380.

Menggunakan pesawat bermesin dua seperti B777ER atau B787 yang walaupun bisa terbang lintas benua tampaknya juga akan ditolak US Secret Service karena kemampuan satu mesin untuk membawa pesawat terbang dalam kondisi darurat juga diragukan. Satu-satunya jalan, kembali melirik pesawat sejenis, mungkin 747XQLR, tetapi dengan sistem kontrol analog untuk menahan serangan EMP. Yang jelas, Gedung Putih harus benar-benar memperhitungkan biaya pengadaan Air Force One yang baru. Pengadaan VC-25 terhitung efisien dan tepat waktu, hanya memakan 650 juta dollar AS untuk dua pesawat, dibanding 1 miliar dollar AS yang dikucurkan untuk proyek helikopter Kestrel Marine One yang berujung entah di mana.

sumber:

kompas:http://internasional.kompas.com/read/2010/11/09/17234911/Air.Force.One..The.Flying.White.House.3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar